RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
SatuanPendidikan : SMP
Kelas/Semester : X/1
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Topik : Menulis Paragraf Naratif
Jumlah Pertemuan : 2 x Pertemuan
A. Kompetensi Inti
a. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
b. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun,
percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan
keberadaannya
c. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
B. Kompetensi Dasar
1. Menghargai dan menghayati keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan untuk sarana memahami
informasi lisan dan tulis.
2. Memahami dan memiliki perilaku jujur, tanggung jawab, dan santun dalam menulis melalui menulis paragraf naratif
3. Memahami contoh paragraf naratif, pola pengembangan paragraf naratif (urutan waktu, tempat), ciri/ karakteristik
paragraf naratif, kerangka paragraf naratif , penggunaan kata ulang dalam paragraf naratif
C. Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Menghargai dan menghayati keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan untuk sarana memahami
informasi lisan dan tulis.
2. Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana
menyajikan informasi lisan dan tulis.
3. Memahami dan memiliki perilaku jujur, tanggung jawab, dan santun dalam menulis melalui menulis paragraf naratif
4. Memahami contoh paragraf naratif
5. Mengetahui dan memahami pola pengembangan paragraf naratif
6. Mengetahui dan memahami ciri paragraf naratif
7. Mengetahui dan memahami kerangka paragraf naratif
8. Mengetahui dan memahami penggunaan kata ulang dalam paragraf naratif
D. Tujuan Pembelajaran
1. Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai
anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana untuk menyajikan informasi lisan dan tulis
2. Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa dapat menghargai dan mengahayati keberadaan bahasa Indonesia
sebagai bahasa persatuan sebagai sarana memahami informasi lisan dan tulis
3. Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa dapat menunjukkan sikap dan perilaku jujur, tanggung jawab, serta
santun dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam menyusun atau menyajikan paragraf naratif
4. Setelah memahami contoh paragraf naratif siswa mampu membuat paragraf naratif yang baik
5. Setelah memahami pola pengembangan paragraf naratif siswa mampu membuat paragraf naratif yang baik
6. Setelah memahami ciri, kerangka dan penggunaan kata ulang dalam paragraf naratif siswa mampu membuat paragraf
naratif yang baik dan sesuai.
E. Materi Pembelajaran
1. Pertemuan pertama
· Mendaftar topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi paragraf naratif
· Menyusun kerangka paragraf naratif berdasarkan kronologi waktu dan peristiwa
· Mengembangkan kerangka yang telah dibuat menjadi paragraf naratif
2. Pertemuan kedua
· Menyunting paragraf naratif yang ditulis teman berdasarkan kronologi, waktu, peristiwa, dan EYD
· Menggunakan kata ulang dalam paragraf naratif
F. Alokasi Waktu
2 x 40 Menit setiap pertemuan
G. Metode Pembelajaran
Metode kooperatif, dengan model gruop investigasi
H. Media, alat dan sumber pembelajaran
a. Contoh paragraf naratif
b. Sumber : buku paket bahasa indonesia dan internet
I. Penialaian hasil Pembelajaran
a. Penilaian sikap (dilakukan setiap kali pertemuan)
Teknik : Pengamatan sikap
Bentuk : Lembar pengamatan
Instrumen :
No
|
Nama Peserta Didik
|
Bersyukur
|
Jujur
|
Percaya Diri
|
Skor
|
Nilai
|
Konversi
| |||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
| |||||
1
| ||||||||||||||||
2
| ||||||||||||||||
3
| ||||||||||||||||
b. Penilaian Pengetahuan (mandiri)
Teknik : Tes tertulis
Bentuk : Soal Uraian
Materi Pembelajaran :
1 Menulis Paragraf Naratif
narasi merupakan suatu bentuk teks yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak \seolah-olah pembaca melihat sendiri atau mengalami sendiri peristiwa itu. Oleh karenanya unsur yang paling penting
pada sebuah narasi adalah unsur perbuatan atau tindakan.
Tetapi kalau narasi hanya menyampaikan kepada pembaca suatu kejadian atau peristiwa, masih sulit dibedakan
dari deskripsi, karena suatu peristiwa atau suatu proses dapat juga disajikan dengan mempergunakan metode deskripsi.
Oleh karena itu, harus ada unsur lain yang perlu diperhitungkan dalam teks narasi, yaitu waktu. Dengan demikian,
pengertian narasi mencakup dua unsur dasar, yaitu perbuatan atau tindakan yang terjadi dalam suatu rangkaian waktu.
Apa yang terjadi dalam teks narasi tidak lain merupakan tindak-tanduk yang dilakukan oleh orang-orang atau tokoh-tokoh dalam suatu rangkaian waktu. Bila deskripsi menggambarkan
suatu objek secara statis, maka narasi mengisahkan suatu kehidupan yang dinamis dalam suatu rangkaian waktu.
Berdasarkan uraian di atas Gorys Keraf (2007: 136) membatasi narasi sebagai suatu bentuk teks yang sasaran
utamanya adalah tindak-tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu. Atau dapat juga
dirumuskan lain, narasi adalah suatu bentuk teks yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi.
Bentuk-bentuk narasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu narasi fiktif dan narasi nonfiktif. Narasi fiktif kita kenal dalam bentuk
kesusastraan seperti, novel, roman, cerpen, dan dongeng. Narasi nonfiktif kita jumpai dalam bentuk sejarah, biografi,
dan autobiografi. yang sering kita temui.
Berikut ini adalah contoh narasi fiktif dalam kutipan roman.
Kira-kira pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda, bernaung di bawah pohon ketapang yang rindang, di muka
sekolah Belanda Pasar Ambacang di Padang, seolah-olah mereka hendak memperlindungkan dirinya dari panas yang
memancar dari atas dan timbul dari tanah, bagaikan uap air yang mendidih. Seorang dari anak muda ini, ialah laki-laki,
yang umurnya kira-kira 18 tahun.
Pakaiannya baju jas tutup putih dan celananya pendek hitam, yang berkancing di ujungnya. Sepatunya sepatu hitam tinggi,
yang disambung ke atas dengan kaus sutera hitam pula dan diikatkan dengan ikatan kaus getah pada betisnya. Topinya
topi rumput putih, yang biasa dipakai bangsa Belanda. Di tangan kirinya ada beberapa kitab dengan sebuah peta bumi
dan dengan tangan kanannya dipegangnya sebuah belebas yang dipukul-pukulkannya ke betisnya. Jika dipandang dari jauh, tentulah akan disangka anak muda ini seorang anak Belanda, yang hendak
pulang sekolah. Tetapi jika dilihat dari dekat nyatalah ia bukan bangsa Eropah; karena kulitnya kuning sebagai kulit langsat,
rambut dan matanya hitam sebagai dawat. Di bawah dahinya yang lebar dan tinggi, nyata kelihatan alis matanya yang tebal
dan hitam pula. Hidungnya mancung dan mulutnya halus. Badannya sedang, tak gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. Pada
wajah mukanya yang jernih dan tenang, terbayang bahwa ia seorang yang lurus, tetapi keras hati, tak mudah dibantah
, barang sesuatu maksudnya. Menilik pakaian dan rumah sekolahnya, nyata ia anak seorang yang mampu dan tertib
sopannya menyatukan ia anak seorang yang berbangsa tinggi. Teman anak muda ini, ialah seorang anak perempuan
yang umurnya kira-kira 15 tahun. Pakaian gadis ini pun sebagai pakaian anak Belanda juga. Rambutnya yang hitam
dan tebal itu, dijalinnya dan diikatnya dengan benang sutera, dan diberinya pula berpita hitam di ujungnya. Gaunnya
(baju nona-nona) terbuat dari kain batis, yang berkembang merah jambu. Sepatu dan kausnya, cokelat warnanya.
Dengan tangan kirinya dipegangnya sebuah batu tulis dan sebuah kotak yang berisi anak batu, pensil, pena, dan lain-lain
sebagainya; dan di tangan kanannya adalah sebuah payung sutera kuning muda, yang berbunga dan berpinggir hijau.
Dikutip dari roman Siti Nurbaya, karya Marah Rusli, hal 9-10.
Berikut ini adalah contoh narasi fiktif dalam kutipan cerpen.
Melayat bapak
Sebenarnya, keberangkatanku ke Jogja hari ini tak begitu berguna. Pemakaman bapak (angkatku) dilakukan pukul 13.00
siang ini. Tapi, aku tak cukup punya waktu untuk segera pulang. Naik kereta api butuh 6-8 jam, sedang bis atau travel
butuh waktu 10-12 jam. Pilihan terakhir tentu saja pesawat terbang. Tapi, jarak tempuh Bekasi - Cengkareng minimal
2 jam, belum macet. Sementara sekarang sudah pukul 10.00. Perjalanan ke Jogja dengan pesawat memang hanya 1 jam
. Paling dari bandara Adi Sucipto ke Kalasan, tinggal 25 menit lagi. Sayangnya, aku tak punya cukup uang untuk bayar
tiket pesawat. Dengan terbata, aku katakan pada saudara angkatku, Ehal, supaya merelakan ketidakhadiranku di
pemakaman bapak. “Bapak pasti ngerti, aku tak bisa datang buru-buru,” kataku pada Ehal. Tentu saja, aku minta
maaf pada bapak, sebab rasanya pahit getir menahan rindu ingin bertemu bapak untuk yang terakhir kali, benar-benar
membuatku sesak. Mau menangis, nanti malah merepotkan teman-teman kantor. Laki-laki kok menangis. Maka, aku
putuskan untuk pulang malam ini, dengan kereta ekonomi. “Ya, sudah kalau tidak bisa pulang sore ini, gak pa pa.
Kami di sini tetap menunggu kedatanganmu esok,” jawab Ehal dengan ketegaran luar biasa.
Sumber: Cerpen karya Ioannes B. Dieuta, Surabaya Post, Minggu, 14 September 2008
2) Menulis Paragraf Deskriptif
Paragraf 1
Liburan panjang kemarin kamu pergi ke Tanjung Lesung Resort. Air laut yang tenang memberi keindahan tersendiri saat
memandangnya dari beranda Krakatau Bar, Tanjung Lesung Resort. Sebuah pemandangan yang menakjubkan, serasa
berada persis di bibir pantai karena pantulan warna air dari kolam renang di depan bar seakan menyatu dengan air laut.
Tak berlebihan jika banyak yang melukiskan keindahan pantai ini laksana surga.
Paragraf 2
Gadis yang berambut ikal dan berkulit sawo matang itu bernama Santi. Ia dilahirkan di Kota Medan, 7 Juli 1996.
Umurnya 10 tahun. Kedua orang tuanya menjulukinya si kancil yang pintar, karena selain pintar ia pun sangat lincah
dan periang. Hobinya membaca, menulis surat, dan bermain sepatu roda. Ia juga suka bermain lompat tali dan
congklak dengan teman-temannya. Kemudian, hal yang paling berkesan dalam hidupnya adalah ketika ia menjadi juara menyanyi. Adapun
pandangan hidupnya, kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana.
Dari kedua contoh di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa paragraf deskripsi adalah jenis paragraf yang
menggambarkan sesuatu berdasarkan pengindraan dengan jelas dan terperinci. Deskripsi bertujuan melukiskan,
membeberkan, atau menggambarkan sesuatu yang menjadi objek. Dengan kata lain, deskripsi adalah suatu
tulisan atau karangan yang bertujuan menggambarkan atau melukiskan pengalaman, pendengaran, perabaan,
penciuman, perasaan, dan situasi atau masalah. Pengindraan terhadap suatu situasi, keadaan, atau masalah
akan melahirkan gambaran atau lukisan yang bertumpu pada penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman,
dan perasaan.
3) Menulis Paragraf Ekspositif
Paragraf ekspositoris adalah paragraf yang memaparkan atau menerangkan suatu hal atau objek. Dari paragraf
jenis ini, diharapkan para pembaca dapat memahami hal atau suatu objek dengan sejelas-jelasnya. Untuk memaparkan masalah yang akan dikemukakan, paragraf eksposisi menggunakan contoh, grafik,
serta berbagai bentuk fakta dan data lainnya. Sedikitnya terdapat tiga pola pengembangan paragraf ekspositoris,
yakni dengan cara proses, sebab dan akibat, serta pola ilustrasi.
1. Pola Sebab Akibat
Pengembangan paragraf dapat pula dinyatakan dengan menggunakan sebabakibat. Dalam hal ini,sebab bisa
bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan akibat sebagai perincian pengembangannya. Namun, dapat
juga terbalik: akibat dijadikan gagasan utama, sedangkan untuk memahami sepenuhnya akibat itu perlu
dikemukakan sejumlah sebab sebagai perinciannya. Persoalan sebab-akibat sebenarnya sangat dekat hubungannya dengan proses. Bila disusun untuk mencari hubungan antarbagiannya,
maka proses itu dapat disebut proses kausal.
Contoh : Kegiatan apa yang dapat dilakukan bersama adik dan kakaknya? Banyak pilihan.Tapi, mengingat Indonesia
sedang berkabung karena 40.000 orang Aceh dan Sumatera Utara meninggal akibat guncangan gempa tektonik dan
gelombang banjir tsunami serta disesuaikan dengan budget, akhirnya Arni memilih berkebun dengan menanam bunga
pada pot-pot yang ada di halaman sekitar rumahnya.
2. Pola Ilustrasi
Sebuah gagasan yang terlalu umum memerlukan ilustrasi-ilustrasi konkret. Dalam karangan eksposisi, ilustrasi-ilustrasi tersebut dipakai sekadar untuk menjelaskan maksud penulis. Dalam hal ini, pengalaman pribadi merupakan
bahan ilustrasi yang paling efektif dalam menjelaskan gagasan umum tersebut.
Contoh : Arni bahagia sehingga terbetik dalam hatinya, “Gimana rasanya kalau sebuah rumah dipenuhi tanaman
bunga? Di sebuah pojok rumah, setiap mata memandang yang terlihat hanya bunga-bunga dan bunga, rasanya seru
banget. Kayaknya pas banget untuk mengungkapkan isi hatiku yang lagi gembira. Kata pepatah, say it with flowers
buat mamiku, karena aku ranking satu ... hu ... huy ....” Arni melonjak kegirangan dan bersiap-siap menata pot bunga
sambil bersenandung lagu-lagu kesukaannya, “Hmmm...hmmm...hmmm....”
SOAL
1. Paragraf yang pikiran utamanya tersirat dalam seluruh isi paragraf disebut paragraf ... .
a. deduksi
b. induksi
c. deskripsi
d. eksposisi
e. Argumentasi
2. Berikut ini yang bukan termasuk teks narasi fiktif adalah ... .
a. sejarah
b. novel
c. roman
d. cerpen
e. Dongeng
3. Orang tuaku juga tidak bekerja lagi. Dulu ayahku punya sepetak sawah kecil yang ditanami padi. Cuma
sepetak kecil, tetapi cukup untuk mengisi perut dan menyekolahkanku serta kedua kakakku. Kalau menjelang
musim panen, sawah ayah kelihatan cantik sekali dengan bulir-bulir padi yang sarat menunduk berwarna
keemasan. Padahal, daun padi cuma seperti ilalang. Ayah menyebut padi adalah buah ilalang. Ayah bilang, jangan
meremehkan ilalang. Kelihatannya cuma seperti belukar, tetapi ada buah yang menjadi hidup manusia di sana.
Di bagian depan pematang sawah, sejak dahulu ada pipa-pipa raksasa tertanam membujur dari ujung ke ujung
desa satu ke desa lain. Aku tidak pernah tahu pipa apa itu. Kata ayah, itu milik Tuan Bakir. Tetapi, aku tidak
pernah melihat Tuan Bakir. Ayah bilang, Tuan Bakir tinggal di nirwana. Kalau ayah menanam padi, Tuan Bakir
menanam pipa. Ketika aku bertanya kenapa Tuan Bakir menanam pipa? Bukankah lebih baik seperti ayah,
menanam padi saja? Aku tidak mengerti apa gunanya menanam pipa.
Kutipan teks di atas merupakan teks narasi yang berbentuk ... .
a. biografi
b. autobiografi
c. sejarah
d. roman
e. cerpen
4. Harapan Rendra “hadir” di koran dalam rubrik budaya bagi pembaca muda itu seperti membuktikan
dua hal besar. Yang pertama, kerinduan akan karya-karya terbaru Rendra. Yang kedua, ampuhnya ruang
budaya di sejumlah media massa. Sejumlah media umum seperti harian umum Kompas, Media Indonesia,
Sinar Harapan, Republika, dan Koran Tempo, maupun media dengan pembaca khusus seperti majalah
astra Horison, majalah Islami Anida, sampai majalah gaya hidup remaja Spice! Menyediakan ruang bagi puisi
atau sajak. (sumber: Matabaca, Januari 2006)
Kutipan paragraf di atas termasuk jenis pola pengembangan paragraf ... .
a. rincian
b. sebab-akibat
c. analogi
d. perbandingan
e. Generalisasi
5. Pada umumnya, buku-buku kumpulan puisi mengalami kesulitan di pasaran. Masyarakat belum melihat
buku puisi menjadi sebuah kebutuhan untuk dinikmati. Banyak orang lebih suka membeli buku resep
ataupun arsitek praktis karena dapat langsung dipetik manfaatnya. Kumpulan puisi masih dipandang
sebagai buku yang tak terlalu bermanfaat. Paling-paling yang mencarinya adalah anak sekolah. Itu pun karena mendapat tugas dari guru.
(sumber: Matabaca, Januari 2006)
Kutipan paragraf di atas termasuk jenis pola pengembangan paragraf ... .
a. rincian
b. sebab-akibat
c. analogi
d. perbandingan
e. generalisasi
Comments
Post a Comment