MAKALAH KEAKSARAAN FUNGSIONAL
BAB
I
PENDAHULUAN
Pendidikan keaksaraan merupakan salah satu prioritas
nasional dengan target menurunkan jumlah orang dewasa buta huruf sebesar 50%
pada tahun 2009. Tujuan utama pendidikan keaksaraan adalah membelajarkan warga
belajar agar dapat memanfaatkan kemampuan dasar baca, tulis, dan hitung
(calistung) dan kemampuan fungsionalnya dalam kehidupan sehari-hari.
Agar pendidikan keaksaraan tersebut dapat dilaksanakan
sesuai tujuan yang diharapkan perlu adanya tenaga tutor keaksaraan yang
memiliki kompetensi di setiap kelompok belajar. Mengingat saat ini para tutor
keaksaraan merupakan tenaga yang belum sepenuhnya mampu membelajarkan warga
belajar KF dengan karakteristik khusus dan berbeda dengan anak-anak, maka para
tutor perlu diberikan dukungan yang memadai dalam melaksanakan tugasnya. Karena
keterbatasan waktu dan biaya maka tidak memungkinkan untuk melatih semua tutor
pada setiap kelompok belajar, maka dari itu diperlukan suatu acuan praktis yang
dapat memandu tutor untuk melaksanakan pembelajaran keaksaraan tanpa harus
dilatih secara terpusat.
Untuk memenuhi tuntutan tersebut, dan
pelaksanaan pembelajaran keaksaraan sesuai dengan prinsip pembelajaran
keaksaraan fungsional, maka diperlukan pemahaman mengenai konsep dasar
pendidikan keaksaraan fungsional, yang diawali dari sejarah singkat
pemberantasan buta huruf sampai pada evaluasi yang menggambarkan proses program
pendidikan keaksaraan secara lengkap dan komprehensif. Salah satu program pendidikan dalam
masyarakat yang paling efektif dilakukan adalah program pemberantasan buta
aksara. Bagi mereka yang telah tidak lagi buta aksara, putus sekolah atau tamat
sekolah tetapi tidak melanjutkan, perlu disediakan suatu program agar dapat
meningkatkan kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan memperluas wawasan
sebagai bekal untuk mengembangkan diri, bekerja, atau berusaha secara mandiri.
Keberadaan program pemberantasan buta aksara sangat penting sebagai sarana
belajar masyarakat. Dengan demikian, sebagai sarana yang diharapkan dapat
menjadi pembina dalam kegiatan pemberantasan buta aksara dan dapat memanfaatkan
makalah ini sebagai sumber yang baik.
Keaksaraan merupakan keadaan
mengenai aksara yang meliputi membaca, menulis, berhitung, dan berkomunikasi
secara fungsional yang memungkinkan seseorang untuk secara terus-menerus
mengembangkan kompetensinya sehingga dapat meningkatkan mutu dan taraf
kehidupannya. Sementara itu, yang dimaksud dengan pendidikan keaksaraan adalah
usaha untuk membimbing dan dan membelajarkan pengetahuan mengenai keaksaraan
agar bermanfaat bagi dirinya. Permasalahan yang saat ini terjadi di Indonesia
adalah tingginya tingkat warga buta aksara yang disebabkan oleh kurangnya
kesempatan belajar yang dapat diperoleh karena tingkat kemiskinan yang cukup
tinggi, sehingga warga tidak mampu memfasilitasi dirinya untuk belajar.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. TINGKAT KEAKSARAAN
FUNGSIONAL
Keaksaraan fungsional merupakan suatu pendekatan atau
cara untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam menguasai dan menggunakan
keterampilan menulis, membaca, berhitung, mengamati, dan menganalisa yang
berorientasi pada kehidupan sehari-hari serta memanfaatkan potensi yang ada di
lingkungan sekitarnya (Buku Pedoman tutor KF, 1998:2).
Untuk memahami pengertian keaksaraan fungsional secara integral dan komprehensif, perlu memahami beberapa istilah yang terkait dengan program keaksaraan fungsional yaitu:
Untuk memahami pengertian keaksaraan fungsional secara integral dan komprehensif, perlu memahami beberapa istilah yang terkait dengan program keaksaraan fungsional yaitu:
- buta
aksara murni, adalah penduduk yang sama sekali tidak bisa membaca,
menulis, dan berhitung dengan sistem keaksaraan apapun juga;
- buta
aksara, untuk konteks Indonesia yaitu buta aksara diasumsikan sebagai buta
bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar;
- Melek
aksara, ditafsirkan sebagai melek aksara latih dan angka arab, melek
bahasa Indonesi, dan pengetahuan dasar; dan
- keaksaraan
fungsional.
Tujuan Program Keaksaraan Fungsional
Dalam buku
Pedoman Tutor Kelompok Belajar Keaksaraan Fungsional tujuan program keaksaraan fungsional
adalah diharapkan peserta didik untuk :
1. bisa meningkatkan pengetahuan
membaca, menulis dan berhitung serta keterampilan fungsional untuk meningkatkan
taraf hidupnya,
2. menggali potensi dan sumber-sumber
kehidupan yang ada dilingkungan sekitar peserta didik, untuk memecahkan masalah
keaksaraan.
3. Sedangkan dalam buku
penyelenggaaraan Program Keaksaraan Fungsional (2005: 8-9) tujuan program
Keaksaraan Fungsional adalah dalam rangka memenuhi amanat konstitusi agar semua
warga negara buta aksara memiliki kemampuan dasar baca-tulis-hitung, sehingga
mampu :
a. membuka wawasan untuk mencari
sumber-sumber kehdidupannyamelaksanakan kehidupan sehari-hari secara efektif
dan efesien
b. mengunjungi dan belajar pada lembaga
yang diperlukan
c. memecahkan masalah keaksaraan dalam
kehidupan sehari-hari;
d. mengenal, mempelajari pengetahuan,
keterampilan, dan sikapa pembaharuan untuk meningkatkan mutu dan taraf hidupnya
serta ikut berpartisipasi dalam pembangunan.
Kegiatan pembelajaran untuk warga
belajar dilakukan juga seperti kegiatan pembelajaran sekolah formal. Artinya,
kegiatan pembelajarannya mengacu pada standar kompetensi keaksaraan. Standar
kompetensi keaksaraan fungsional dikembangkan berdasarkan level atau tingkat
kompetensi keaksaraan yang ingin dicapai oleh warga belajar. Tingkat keaksaraan
tersebut adalah:
1. Tingkat
Keaksaraan Dasar
Ciri-ciri warga belajar pada tingkat
keaksaraan dasar adalah mereka yang belum mengenal semua huruf, belum bisa
merangkai kata dengan lancar, dan belum mengerti arti sebuah kalimat dengan
jelas. Meskipun mereka belum bisa menulis, membaca, atau berhitung, tetapi
mereka sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang dapat digunakan dalam
kegiatan pembelajaran.
2. Tingkat
Keaksaraan Lanjutan
Pada tingkat ini, mereka biasanya sudah
dapat membaca dan menulis sederhana, tetapi masih belum lancar. Walaupun mereka
sudah memiliki pengetahuan, mereka belum memiliki semua kemampuan fungsional
yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut karena mereka
biasanya jarang menggunakan keterampilan membaca, menulis, dan berhitung dalam
kehidupan sehari-harinya.
3. Tingkat
Keaksaraan Mandiri
Pada tingkat ini, warga belajar
diharapkan sudah mempunyai sikap untuk terus belajar secara mandiri. Mereka
juga diharapkan dapat memecahkan masalah keaksaraan yang dihadapi dan mencari
informasi serta narasumber sendiri. Untuk mengembangkan kemampuan tersebut,
warga belajar perlu diberikan kesempatan untuk menganalisis, memecahkan
masalah, dan mencari informasi dan narasumber dari lembaga desa atau instansi
pemerintah yang ada.
B. PRINSIP PEMBELAJARAN
KEAKSARAAN FUNGSIONAL
Pendekatan yang digunakan dalam
keaksaraan fungsional mempunyai empat prinsip utama, yaitu:
1. Konteks Lokal
Pembelajaran keaksaraan fungsional
ini dikembangkan berdasarkan konteks local. Artinya, kegiatannya mengacu pada
konteks sosial local dan kebutuhan khusus dari setiap warga belajar dan
masyarakat sekitarnya. Berdasarkan alasan tersebut, pendidik dan warga belajar
perlu mengobservasi lingkungan sekitar mereka. Tujuannya adalah untuk mencari
dan mengumpulkan informasi tentang potensi, masalah-masalah, dan sumber-sumber
pemecahannya sesuai dengan situasi, kondisi, dan pekerjaan warga belajar.
2. Desain Lokal
Pendidik dan warga belajar perlu
merancang sendiri kegiatan belajarnya di kelompok belajar berdasarkan minat,
kebutuhan, masalah, kenyataan, dan potensi setempat. Rancangan kegiatan
belajarnya (kurikulum) harus fleksibel, mudah dimodifikasi, diganti, dan
ditambah sehingga sesuai dengan minat, kebutuhan, kesepakatan, situasi dan
kondisi warga belajar.
3. Proses
Partisipatif
Perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi pembelajaran pemberantasan buta aksara dengan menggunakan pendekatan
keaksaraan fungsional harus dilakukan berdasarkan strategi partisipasif. Oleh
sebab itu, tutor perlu melibatkan warga belajar secara aktif dalam setiap tahap
kegiatan pembelajaran di kelompok belajar.
4. Fungsionalisasi
Hasil Belajar
Hasil yang diharapkan dari proses
pembelajaran tersebut adalah warga belajar dapat memfungsikan keaksaraannya
untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam rangka
meningkatkan mutu dan taraf hidupnya.
Berikut ini adalah beberapa contoh
perkiraan hasil program keaksaraan fungsional, di antaranya warga belajar
dapat:
a. Memanfaatkan kemampuan bacanya untuk
memperoleh informasi dan ide-ide baru,
b. Memanfaatkan keterampilan menulisnya
untuk menggambarkan pengalaman, peristiwa-peristiwa, kegiatan yang dilakukan,
membuat rencana, dan menulis proposal,
c. Memanfaatkan keterampilan berhitungnya
untuk mengatur keuangan, menentukan batas, dan melakukan
penghitungan-penghitungan yang berkaitan dengan tugasnya sehari-hari, dan
menghitung banyaknya sumber-sumber atau masalah,
d. Berdiskusi dan menganalisis masalah
dan sumber-sumber, atau potensi yang ada di lingkungannya,
e. Mencoba ide-ide baru yang dipelajari
dari bahan bacaan, dapat menulis dengan benar, menganalisis dan berdiskusi, dan
dapat melaksanakan kegiatan belajarnya secara mandiri.
C. TOLAK UKUR KEBERHASILAN
PEMBELAJARAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL
Program keaksaraan fungsional
bertujuan untuk membantu warga belajar mengembangkan kemampuan fungsional yang
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan tujuan tersebut, maka
kemampuan minimal yang menjadi tolak ukur keberhasilannya, meliputi hal-hal
berikut ini.
1. Kemampuan
Fungsional untuk Keperluan Individu
Kemampuan fungsional ini berkaitan
mendukung keperluan pribadi, seperti:
a. Membaca dan menulis nama dan alamat,
b. Menggunakan buku telepon,
c. Menulis kuitansi,
d. Mengisi formulir,
e. Meningkatkan kemampuan tulisan
tangan, dll.
2. Kemampuan
Fungsional untuk Membantu Anak-anaknya
Kemampuan fungsional ini berkaitan
dengan keperluan membantu anak-anaknya, seperti:
a. Membacakan suatu bahan bacaan
sederhana kepada anak-anak/cucu,
b. Membantu pekerjaan rumah (PR)
anak-anaknya,
c. Menuliskan surat untuk keperluan
sekolah anak-anaknya,
d. Berpartisipasi di sekolah yang
berhubungan dengan pertemuan-pertemuan dan acara lainnya,
e. Membaca dan menulis catatan/surat
dari dan untuk sekolah.
3. Kemampuan
Fungsional untuk Aktualisasi Diri
Kemampuan membaca dan menulis
fungsional yang harus dikuasai setiap warga belajar, antara lain:
a. Membaca buku hiburan (petualangan,
misteri, roman, sejarah, dan buku-buku tentang masyarakat),
b. Membaca buku-buku untuk mendapatkan
informasi (kisah nyata, pekerjaan, anak-anak, kesehatan, agama, hobi, dll),
c. Menulis untuk keperluan diri sendiri
(seperti catatan harian, pengalaman diri, nasihat, pendapat, laporan yang
pernah dibacanya, riwayat hidup, cerita-cerita, sajak, syair lagu).
4. Kemampuan
Fungsional Berkaitan dengan Pekerjaan
Bahan belajar yang dapat
dimanfaatkan berkaitan dengan pekerjaan, misalnya:
a. Bahan bacaan untuk meningkatkan
pekerjaannya atau untuk membuka usaha,
b. Membaca dan menulis catatan-catatan
atau surat dari dan atau ke relasi kerja,
c. Membaca atau menulis laporan
pekerjaan, tabel, pengumuman,
d. Mengisi lembar permohonan, buku
tabungan, kuitansi, nota pembelian, kartu kebutuhan belajar,
e. Partisipasi di dalam pertemuan yang
berhubungan dengan pekerjaan, catat-mencatat.
5. Kemampuan
Fungsional Berkaitan dengan Sosial Kemasyarakatan
Kemampuan fungsional ini berkaitan
dengan aktifitas sosial kemasyarakatan, seperti:
a. Membuat permohonan KTP,
b. Membaca persetujuan/kontrak,
c. Permohonan kartu perpustakaan,
d. Ikut serta dalam pertemuan
masyarakat/pertemuan agama,
e. Ikut serta dalam kelompok untuk
memecahkan masalah.
6. Kemampuan
Fungsional Berkaitan dengan Pendidikan
Kemampuan fungsional ini, misalnya
dilihat dari aktifitas warga belajar dalam kegiatan:
a. Menghadiri program
khusus/penyuluhan,
b. Menghadiri pertemuan, guna
mempelajari sesuatu yang baru (hobi, peningkatan diri), dan
c. Mengikuti tes sehubungan dengan
pekerjaan.
7. Kemampuan
Fungsional Berkaitan dengan Pengelolaan Kelompok Belajar
Beberapa contoh perkiraan hasil
program keaksaraan fungsional ini, di antaranya warga belajar dapat:
a. Membuat rencana dan kesepakatan
belajar,
b. Menulis catatan harian tentang
kegiatan yang dilakukan,
c. Membuat pembukuan dan mengelola dana
belajar,
d. Menulis laporan sederhana,
e. Mengikuti program kelompok belajar
usaha (KBU),
f.
Menulis
proposal untuk memperoleh dana, bahan, atau narasumber dari instansi lain,
g. Menulis berbagai formulir sederhana,
seperti membuka rekening di bank, mengirim uang melalui kantor pos,
h. Melaksanakan kegiatan-kegiatan usaha
keterampilan.
D. PELAKSANAAN KEGIATAN
PEMBELAJARAN DI KELOMPOK BELAJAR DAN STRATEGI PEMBELAJARAN KEAKSARAAN
FUNGSIONAL
Efektifitas kegiatan belajar sangat
bergantung pada kemampuan pendidik dalam mengorganisasi dan membimbing warga
belajar dalam kegiatan belajarnya. Pengalaman menunjukkan bahwa kegiatan
menulis perlu didahulukan daripada kegiatan membaca. Karena melalui kegiatan
belajar menulis, warga belajar sedikit demi sedikit langsung belajar membaca.
Sebaliknya, apabila mereka didahulukan belajar membaca, maka cenderung kurang
terampil dalam hal menulis.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan
tutor dalam membelajarkan warga belajar adalah sebagai berikut:
a. Tanyakanlah perasaan warga belajar
dan materi apa yang akan dipelajari pada hari itu.
b. Mintalah warga belajar mengemukakan
ide/gagasan, perasaan, pengalaman, atau masalah yang dihadapinya.
c. Mintalah warga belajar berdiskusi
tentang salah satu topik untuk dibuat kesepakatan bersama.
d. Apabila telah disepakati, buatlah
tabel kosong, peta buta, atau kalender kegiatan dan mintalah semua warga
belajar untuk mengisi tabel, peta, atau kalender kegiatan tersebut.
e. Jika topik yang dipilih adalah
mengenai kegiatan sehari-hari, pengalaman, atau tentang perasaan warga belajar,
maka mintalah warga belajar yang bersangkutan untuk mengemukakan dan
menceritakan kembali, sedangkan warga belajar yang lainnya menanggapi.
f.
Mintalah
warga belajar yang menuliskan topik belajar tersebut untuk membacanya.
g. Kemudian, mintalah kepada semua
warga belajar membaca hasil tulisan tersebut, baik secara bersama-sama maupun
bergiliran.
h. Mintalah mereka untuk mendiskusikan
judul atau tema tulisan di atas, kemudian membuat kesepakatan judul/tema.
i.
Mintalah
kepada warga belajar untuk mengkritisi dan memperbaiki ide/gagasan, ejaan, dan
tanda baca.
j.
Mintalah
warga belajar menulis pada buku masing-masing.
Untuk memperjelas langkah-langkah
kegiatan tersebut, berikut ini dikemukakan contoh-contoh pembelajaran.
1. Strategi
Pengelolaan Diskusi
Diskusi merupakan salah satu metode pembelajaran
efektif dalam program Keaksaraan Fungsional (KF) yang harus diterapkan di
kelompok belajar. Tujuan diskusi adalah membuka pikiran warga belajar dalam
mengumpulkan, menganalisis, dan menggunakan pengetahuannya. Oleh karena itu,
tutor perlu membantu warga belajar dari pengalaman sendiri (BDPS) dan membantu
terjadinya proses diskusi. Topik yang harus pertama kali didiskusikan dalam
kelompok belajar adalah menyangkut minat, kebutuhan warga belajar, potensi, dan
hambatan yang mungkin ditemui selama proses kegiatan pembelajaran. Untuk
keperluan tersebut, tutor perlu merangsang warga belajar melalui pertanyaan
yang tepat, guna membuka proses kegiatan belajar-mengajar. Sebagai pembuka
kegiatan di kelompok belajar, tutor dapat memilih teknik-teknik, seperti peta,
tabel, dan kalender kegiatan/jadwal. Melalui teknik-teknik tersebut, tutor
dapat mengumpulkan dan menganalisis informasi dari pengalaman warga belajar.
2. Strategi
Pembelajaran Membaca
Biasanya warga belajar sudah
mempunyai kemampuan mengenal dan mengucapkan huruf atau kata yang sering
digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, mereka belum mengerti betul bahwa
kata-kata tersebut terdiri dari beberapa suku kata atau huruf. Misalnya Nama
sendiri, anak-anaknya, anggota keluarga, dan lainnya, Alamat/tempat tinggal di
desa/kampong, kecamatan, kabupaten.
Kemampuan mengucapkan dan menghafal
kata-kata, biasanya tidak selalu beriringan dengan kemampuan membacanya.
Ajarkanlah keterampilan membaca sesuai dengan kebutuhan warga belajar dengan
bahan bacaan yang sederhana.
Keterampilan membaca perlu selalu
diajarkan bersamaan dengan kegiatan fungsional warga belajar. Misalnya cita-cita/keinginan
anaknya.
3. Strategi
Pembelajaran Menulis
1) Kegiatan
Pembelajaran untuk Merangsang Diskusi
a. Bawalah sesuatu benda ke pertemuan
di kelompok belajar, kemudian mintalah warga belajar mengemukakan pendapat
tentang benda yang tutor tunjukkan
b. Tanyakanlah pada warga belajar
tentang situasi masyarakat di lingkungan mereka pada saat itu, bantulah mereka
membuat jadwal (waktu kejadian) tentang sejarah, masalah atau peta, dan
jelaskanlah lokasi masalah serta sumber pemecahannya.
c. Bacakanlah setengah bagian dari
suatu cerita yang sudah dikenal warga belajar lalu mintalah mereka untuk
menerka kemungkinan akhir cerita tersebut.
d. Tunjukkanlah sebuah gambar yang
mengandung masalah dan mintalah pendapat warga belajar tentang hubungan gambar
tersebut dengan kehidupan sehari-hari yang dialami warga belajar.
e. Mintalah warga belajar untuk bermain
peran atau simulasi dan diskusi, serta menanyakan hasil dari simulasi dan
diskusi tersebut.
2) Membentuk
Kelompok Menulis
Proses menulis akan lebih mudah
warga belajar bekerja sama dan saling membantu dengan yang lain. Bila mereka
menulis dalam kelompok kecil atau dengan berpasangan (partner), tugas
seorang tutor adalah memonitor dan membantu warga belajar satu per satu.
3) Tutor
Melatih Warga Belajar yang Mampu
Dalam kegiatan ini tutor melatih
terlebih dahulu warga belajar dalam satu kelompok yang dianggap mampu/memiliki
kemampuan calistung lebih tinggi dibandingkan dengan warga belajar lainnya.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperingan kerja tutor dalam membimbing
seluruh warga belajar. Melalui cara ini warga belajar yang sudah dilatih
tersebut diharapkan membantu warga belajar lainnya yang masih dalam taraf
permulaan belajar.
4) Prinsip-prinsip
Membantu Warga Belajar Menulis
a. Menggunakan bahan-bahan, peristiwa
atau kejadian, dan permasalahan yang berasal dari masyarakat setempat.
b. Memiliki berbagai pilihan gambar
yang ditampilkan, dalam mengemukakan masalah yang dihadapi warga belajar,
selanjutnya meminta mereka mencari pemecahannya.
c. Memberi kesempatan kepada warga
belajar untuk berpikir sendiri.
d. Bantulah warga belajar agar percaya
diri dan merasa senang bahwa mereka dapat menulis.
e. Gunakan bahasa daerah setempat
(lokal).
5) Cara Menggunakan Hasil Tulisan
Warga Belajar
a. Praktik membaca hasil tulisan warga
belajar
b. Analisislah hasil tulisan warga
belajar dan pilihlah beberapa contoh untuk digunakan dalam praktik membaca.
(bisa menggunakan hektograf atau fotokopi untuk memperbanyak hasil tulisan).
c. Warga belajar diminta untuk saling
berpasangan, warga belajar membaca dan mendiskusikan hasil tulisan yang dipilih
oleh tutor.
d. Warga belajar diminta untuk memberi
tanggapan tentang hasil tulisan tersebut.
e. Warga belajar mendiskusikan dan
menuliskan informasi lebih banyak mengenai topik yang didiskusikan.
6) Memperbaiki hasil tulisan
a. Guna membantu memperbaiki hasil
tulisannya, analisislah hasil tulisan dan identifikasilah kesalahan
yang dibuat warga belajar.
b. Mintalah warga belajar mencoba
mencari kesalahan sendiri dan memperbaikinya.
c. Cara menyunting: bantulah warga
belajar menulis kalimat yang benar melalui proses membetulkan ejaan, suku-kata,
kata, kalimat, dan tata bahasa.
d. Warga belajar menulis kata atau
kalimat dengan bahasa mereka sendiri.
e. Bimbing dan bantulah secara bertahap
satu per satu dengan menggunakan pertanyaan.
7) Prinsip-prinsip memperbaiki hasil
tulisan
a. Tujuan tulisan warga belajar adalah
pada hasil akhir dan harus mempunyai arti yang jelas.
b. Tutor tidak perlu khawatir apabila
ejaan dan tata bahasanya belum benar. Tutor dapat membantu warga belajar
memperbaikinya secara perlahan-lahan.
c. Pilih satu atau dua keterampilan menulis
yang dianggap paling penting bagi warga belajar.
8) Menerbitkan Hasil Tulisan Warga
Belajar
- Cara penerbitan
a. Salinan tangan.
b. Warga belajar menulis
salinan/tambahan dengan tangan, bukan diketik atau difotokopi.
c. Percetakan setempat atau fotokopi.
d. Warga belajar dapat membuat satu
tulisan lalu dicetak atau difotokopi beberapa lembar.
- Bentuk dan jenis penerbitan
a. Koran Dinding atau Papan Berita:
berisi informasi, pemberitahuan, pengumuman, kliping berita, artikel yang
ditulis warga belajar/tutor.
b. Laporan Berkala: dicetak 1 atau 2
halaman berisi berita, informasi cerita.
c. Brosur: terdiri dari beberapa
halaman lepas.
d. Selebaran: dapat berupa lembar lipat
(leaflet), yang berisi gambar dan informasi yang dapat dibaca warga
belajar.
e. Poster: terdiri atas gambar dan
informasi yang dibuat pada kertas lebar.
f.
Buku
Catatan: warga belajar membuat catatan kegiatan sehari-hari.
g. Catatan Harian: berisi mengenai
tulisan warga belajar yang berisi jadwal kegiatan sehari-hari.
- Prinsip-prinsip menerbitkan
hasil tulisan
a. Warga belajar sebenarnya mampu
membuat penerbitan sederhana, jika mempunyai kesempatan mengikkuti
langkah-langkah proses menulis.
b. Penerbitan akan lebih mendorong
warga belajar untuk membaca dan menulis.
c. Penerbitan adalah salah satu cara
untuk membuat dokumen, sejarah suatu tempat/daerah, pengetahuan, cerita, dan
dapat memberikan informasi pada orang lain.
9) Merangsang Warga Belajar
Menganalisis Situasi
Dalam kegiatan ini, seorang tutor
perlu memberikan motivasi pada warga belajar agar dapat menganalisis dan memperbaiki
situasi kehidupan sehari-hari berdasarkan hasil tulisan atau hasil belajar
mereka. Warga belajar dapat melakukan kegiatan, seperti membuat sebuah cerita,
riwayat hidup, selebaran informasi, surat laporan, artikel, dll. Untuk mencapai
hasil yang diinginkan, biasanya warga belajar memerlukan waktu beberapa minggu
untuk menulis dan memperbaiki hasil tulisannya, sehingga dapat menyampaikan
informasi/pesan dengan jelas dan mudah dimengerti oleh orang lain
4. Strategi
Pembelajaran Berhitung
Pada pelajaran berhitung, biasanya
sedikit mengalami kesulitan, karena warga belajar sudah mampu
mengenal/menghitung nilai nominal uang, jumlah ternak yang dimiliki, jumlah
anak, dll. Akan tetapi, pengalaman menunjukkan bahwa warga belajar juga belum
mampu menuliskan secara benar tentang penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan
perbandingan. Tutor perlu membantu membelajarkan berhitung yang sudah biasa
dikenal dan digunakan warga belajar dalam kehidupannya sehari-hari.
1) Mengamati
Kegiatan Berhitung
Pada saat kegiatan belajar
berhitung, tutor perlu mengamati kegiatan berhitung yang ada pada masyarakat.
Selain itu, tutor perlu mengamati cara belajar keterampilan berhitung yang
digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
2) Prinsip-prinsip
Berhitung
a. Warga belajar sudah mempunyai
kemampuan/potensi menghitung yang dapat digunakan sehari-hari, seperti: Jumlah
anak, Jumlah ternak peliharaan, Penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan
perkalian sederhana.
b. Kemampuan berhitung biasanya lebih
baik dari pada kemampuan menulisnya.
c. Ajarkanlah keterampilan berhitung
yang dibutuhkan warga belajar.
d. Gunakan dan manfaatkanlah alat-alat
yang berasal dari kehidupan warga belajar.
e. Ajarkanlah keterampilan berhitung
bersama-sama dengan kegiatan fungsional. Jarak, Pertumbuhan anak, dll.
f.
Gunakanlah
alat-alat yang dapat dikerjakan sendiri oleh warga belajar, seperti lidi, batu,
daun, dll.
g. Bagaimana mengajar berhitung untuk
program Keasaraan Fungsional.
(1) Mengetahui
kebutuhan berhitung warga belajar.
(2) Melaksanakan
survei matematika sesuai dengan kebutuhan warga belajar.
(3) Mengumpulkan
dan menggunakan alat local sebagai alat bantu berhitung.
(4) Menerapkan
kegunaan berhitung dalam kehidupan warga belajar sehari-hari.
5. Strategi
Pembelajaran Aksi/Keterampilan
Belajar aksi fungsional/keterampilan
adalah cara membelajarkan warga belajar untuk ikut berpartisipasi aktif dalam
kegiatan pembelajaran, seperti kegiatan praktik, kunjungan lapangan, membuat
jaringan kerja, membuat rencana, membuat proposal dana belajar, menerapkan
hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari. Berikut dijelaskan beberapa
contoh yang berkaitan dengan belajar aksi fungsional tersebut.
1) Membuat
Jaringan Kerja
Untuk menunjang keberhasilan program
dan penerapan hasil belajar, warga belajar dan tutor perlu membuat jaringan
kerja dengan instansi lain. Tujuannya adalah untuk membelajarkan warga belajar
dalam memfungsikan keaksaraannya, dan memanfaatkan kesediaan instansi-instansi
tersebut agar bersedia membantu kegiatan belajar di kelompok, dan untuk mencari
informasi atau bantuan untuk memecahkan masalah-masalah yang ditemui warga
belajar dengan cara:
a. Mencari dan Mengumpulkan Bahan
Bacaan
b. Tutor dan warga belajar mengunjungi
Instansi/kantor atau sumber lain yang dapat membantu Kejar dalam mencari dan
mengumpulkan bahan bacaan.
c. Menggali atau mewawancarai
narasumber yang dianggap memiliki pengetahuan dan keterampilan tertentu.
d. Bentuk Kerja Sama dengan Instansi,
Kantor, Organisasi atau Perorangan.
e. Kegiatan yang dilakukan: Tutor dan
warga belajar mengunjungi sendiri instansi tersebut, Tutor bersama warga
belajar mengunjungi instansi, kantor, organisasi, dan perorangan, Petugas
datang ke kelompok belajar.
Pengelola, pamong belajar, dan
Penilik/TLD hanya bertugas membantu memberi rekomendasi atau memfasilitasi
kegiatan tersebut.
2) Keterampilan
Fungsional
Kegiatan di kelompok belajar akan
lebih menggairahkan jika disertai dengan keterampilan fungsional
yang bermanfaat bagi peningkatan taraf hidup warga belajar. Warga belajar tidak
hanya belajar baca, tulis, dan hitung (calistung) saja, tetapi perlu
diintegrasikan dengan kegiatan keterampilan fungsional, seperti membuat kue,
menjahit, membuat anyaman, menanam sayuran. Kegiatan keterampilan fungsional
sangat penting dilakukan sebagai wahana mempraktikkan hasil belajar mereka.
3) Membuat
Proposal Dana Belajar
Tujuan membuat proposal dana belajar
adalah membantu warga belajar membuat suatu rencana untuk memperoleh dana
belajar sebagai penunjang kegiatan di kelompok belajar. Tutor dapat membimbing
warga belajar dengan cara:
a.
Meminta
warga belajar membantu membuat rencana kegiatan yang harus diselenggarakan,
b. Membantu warga belajar memikirkan
bagaimana cara menggunakan dana secara efektif dan efisien,
c.
Membantu
warga belajar memikirkan bagaimana cara mendapatkan dana baik dari Dikmas
maupun dari instansi lain,
d. Agar warga belajar lebih
berpartisipasi dalam kegiatan di kelompok belajar,
e.
Agar warga
belajar dapat memberikan kontribusi lebih besar di kelompok belajar.
4) Proses
Membuat Rencana untuk Memperoleh Dana Belajar
Program Keaksaraan Fungsional
menyediakan dana belajar, untuk membantu warga belajar meningkatkan penhasilan
dan memotivasi mereka untuk terus belajar. Sambil belajar menulis, membaca, dan
berhitung sekaligus belajar keterampilan untuk memperbaiki mutu dan taraf
kehidupannya. Besarnya dana belajar sesuai dana yang tersedia.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan pada
pembahasan di atas, maka kesimpulan yang dapat dipaparkan pada makalah ini
adalah bahwa Program Keaksaraan Fungsional pada dasarnya merupakan suatu
pengembangan dari program keaksaraan sebelumnya.
Program Keaksaraan Fungsional pada
dasarnya memiliki tujuan, yaitu:
a. Meningkatkan keterampilan membaca,
menulis, berhitung, dan juga keterampilan berbicara, berpikir, mendengar, dan
berbuat.
b. Memecahkan masalah kehidupan warga
belajar melalui kebiasaannya dalam membaca, menulis, berhitung, dan berbuat.
c. Meningkatkan keberanian warga
masyarakat untuk berhubungan dengan lembaga yang berkaitan dengan kebutuhan
belajarnya.
d. Meningkatkan pengetahuan,
keterampilan dan sikap pembaharuan agar dapat berpartisipasi dalam perubahan
sosial, ekonomi dan kebudayaan di masyarakat.
e. Meningkatkan kesejahteraan keluarga
melalui keterampilan dan kebudayaan di masyarakat.
B. SARAN
Sebenarnya sangat banyak
program-program untuk memberantas buta aksara. Namun, karena kurangnya
fasilitator sebagai penyalur kepada warga belajar dalam masyarakat menyebabkan
program-program tersebut tidak dapat berjalan dengan lancar. Ini juga
disebabkan karena kurangnya informasi-informasi penting yang tidak sampai pada
masyarakat.
Comments
Post a Comment