Pandangan Paulo Freire Tentang Pendidikan.
Pandangan
Paulo Freire tentang pendidikan tercermin dalam kritikannya yang tajam
terhadap sistem pendidikan dan dalam pendidikan alternatif yang
ia tawarkan. Baik kritikan maupun tawaran konstruktif Freire keduanya
lahir dari suatu pergumulan dalam konteks nyata yang ia hadapi dan
sekaligus merupakan refleksi filsafat pendidikannya yang berporos
pada pemahaman tentang manusia. a. Konteks Yang Melatarbelakangi Pemikiran
Paulo Freire. Hidup Freire merupakan suatu rangkaian perjuangan dalam
konteksnya. Dalam kedudukannya sebagi dosen, ia menerapkan
sistem pendidikan “hadap-masalah” sebagai kebalikan dari pendidikan
“gaya bank”. Sistem pendidikan hadap masalah yang penekanan utamanya
pada penyadaran nara didik menimbulkan kekuatiran di kalangan para
penguasa. Karena itu, ia dipenjarakan pada tahun 1964 dan kemudian
diasingkan ke Chile. Pengasingan itu, walaupun mencabut ia dari
akar budayanya yang menimbulkan ketegangan, tidak membuat idenya yang
membebaskan “dipenjarakan”, tetapi sebaliknya ide itu semakin menyebar ke
seluruh dunia. Pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan lahir
dari pergumulannya selama bekerja bertahun-tahun di tengah-tengah
masyarakat desa yang miskin dan tidak “berpendidikan”. Masyarakat feodal
(hirarkis) adalah struktur masyarakat yang umum berpengaruh di
Amerika Latin pada saat itu. Dalam masyarakat feodal yang hirarkis ini
terjadi perbedaan mencolok antara strata masyarakat “atas” dengan
strata masyarakat “bawah”.
Golongan
atas menjadi penindas masyarakat bawah dengan melalui kekuasaan politik
dan akumulasi kekayaan, karena itu menyebabkan golongan masyarakat bawah
menjadi semakin miskin yang sekaligus semakin
menguatkan ketergantungan kaum tertindas kepada para penindas itu.
Dalam kehidupan masyarakat yang sangat kontras itu, lahirlah suatu
kebudayaan yang disebut Freire dengan kebudayaan “bisu”. Kesadaran refleksi
kritis dalam budaya seperti ini tetap tidur dan tidak
tergugah. Akibatnya waktu lalu hanya dilihat sebagai sekat hari ini
yang menghimpit. Manusia tenggelam dalam “hari ini” yang panjang, monoton
dan membosankan sedangkan eksistensi masa lalu dan masa akan datang
belum disadari. Dalam kebudayaan bisu yang demikian itu kaum tertindas
hanya menerima begitu saja segala perlakuan dari kaum penindas. Bahkan, ada
ketakutan pada kaum tertindas akan adanya kesadaran tentang ketertindasan
mereka. Itulah dehumanisasi karena bahasa sebagai prakondisi untuk
menguasai realitas hidup telah menjadi kebisuan. Diam atau bisu dalam
konteks yang dimaksud Freire bukan karena protes atas perlakuan yang
tidak adil. Itu juga bukan strategi untuk menahan intervensi penguasa dari
luar. Tetapi, budaya bisu yang terjadi adalah karena bisu dan bukan
membisu. Mereka dalam budaya bisu memang tidak tahu apa-apa. Mereka
tidak memiliki kesadaran bahwa mereka bisu dan dibisukan. Karena itu,
menurut Freire untuk menguasai realitas hidup ini termasuk
menyadari kebisuan itu, maka bahasa harus dikuasai. Menguasai bahasa
berarti mempunyai kesadaran kritis dalam mengungkapkan realitas.
Untuk
itu, pendidikan yang dapat membebaskan dan memberdayakan
adalah pendidikan yang melaluinya nara didik dapat mendengar suaranya
yang asli. Pendidikan yang relevan dalam masyarakat berbudaya bisu
adalah mengajar untuk memampukan mereka mendengarkan suaranya sendiri
dan bukan suara dari luar termasuk suara sang pendidik. Dalam konteks
yang demikian itulah Freire bergumul. Ia terpanggil untuk membebaskan
masyarakatnya yang tertindas dan yang telah “dibisukan”.
Pendidikan “gaya bank” dilihatnya sebagai salah satu sumber yang
mengokohkan penindasan dan kebisuan itu. Karena itulah, ia menawarkan
pendidikan “hadap masalah” sebagai jalan membangkitkan
kesadaran masyarakat bisu.
Dalam
sistem pendidikan yang diterapkan di Brasilia pada masa Freire, anak didik
tidak dilihat sebagai yang dinamis dan punya kreasi tetapi dilihat
sebagai benda yang seperti wadah untuk menampung sejumlah
rumusan/dalil pengetahuan. Semakin banyak isi yang dimasukkan oleh gurunya
dalam “wadah” itu, maka semakin baiklah gurunya. Karena itu semakin
patuh wadah itu semakin baiklah ia. Jadi, murid/nara didik hanya menghafal
seluruh yang diceritakan oleh gurunya tanpa mengerti. Nara didik
adalah obyek dan bukan subyek. Pendidikan yang demikian itulah yang
disebut oleh Freire sebagai pendidikan “gaya bank”.
Disebut
pendidikan gaya bank sebab dalam proses belajar mengajar guru
tidak memberikan pengertian kepada nara didik, tetapi memindahkan
sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk disimpan yang kemudian
akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan. Nara didik adalah
pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi pada akhirnya
nara didik itu sendiri yang “disimpan” sebab miskinnya daya cipta.
Karena itu pendidikan gaya bank menguntungkan kaum penindas dalam
melestarikan penindasan terhadap sesamanya manusia.
Pendidikan
“gaya bank” itu ditolak dengan tegas oleh Paulo Freire. Penolakannya itu
lahir dari pemahamannya tentang manusia. Ia menolak pandangan yang
melihat manusia sebagai mahluk pasif yang tidak perlu membuat
pilihan-pilihan atas tanggung jawab pribadi mengenai
pendidikannya sendiri. Bagi Freire manusia adalah mahluk
yang berelasi dengan Tuhan, sesama dan alam. Dalam relasi dengan
alam, manusia tidak hanya berada di dunia tetapi juga bersama dengan
dunia. Kesadaran akan kebersamaan dengan dunia menyebabkan manusia
berhubungan secara kritis dengan dunia. Manusia tidak hanya bereaksi
secara refleks seperti binatang, tetapi memilih, menguji, mengkaji
dan mengujinya lagi sebelum melakukan tindakan. Tuhan memberikan
kemampuan bagi manusia untuk memilih secara reflektif dan bebas. Dalam
relasi seperti itu, manusia berkembang menjadi suatu pribadi yang
lahir dari dirinya sendiri. Bertolak dari pemahaman yang demikian itu,
maka ia menawarkan sistem pendidikan alternatif sebagai pengganti
pendidikan “gaya bank” yang ditolaknya. Sistem pendidikan alternatif yang
ditawarkan Freire disebut pendidikan “hadap-masalah”.
Pembebasan
Sebagai Hakekat Tujuan
Bertolak
dari pandangan filsafat tentang manusia dan dunia tersebut, Freire kemudian
merumuskan gagasan-gagasannya tentang hakekat pendidikan dalam suatu dimensi
yang sifatnya sama sekali baru dan pembaharu. Bagi Freire, pendidikan haruslah
berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri.
Pengenalan itu tidak cukup hanya bersifat obyektif atau subyektif, tapi harus
kedua-duanya. Kebutuhan obyektif untuk merubah keadaan yang tidak manusiawi
selalu memerlukan kemampuan subyektif (kesadaran subyektif) untuk mengenali
terlebih dahulu keadaan yang tidak manusiawi, yang terjadi senyatanya, yang
obyektif. Obyektivitas dan subyektivitas dalam pengertian ini menjadi dua hal
yang tidak saling bertentangan, bukan suatu dikotomi dalam pengertian
psikologis. Kesadaran subyektif dan kemampuan obyektif adalah suatu fungsi
dialektis yang ajeg (constant) dalam diri manusia dalam hubungannya dengan
kenyataan yang saling bertentangan yang harus dipahaminya. Memandang kedua
fungsi ini tanpa dialektika semacam itu bisa menjebak kita ke dalam kerancuan
berfikir.
Obyektivitas
pada pengertian si penindas bisa saja berarti subyektivitas pada pengertian si
tertindas, dan sebaliknya. Jadi hubungan dialektis tersebut tidak berarti
persoalan mana yang lebih benar atau yang lebih salah. Oleh karena itu,
pendidikan harus melibatkan tiga unsur sekaligus dalam hubungan dialektisnya
yang ajeg, yakni: ·Pengajar ·Pelajar atau anak didik ·Realitas dunia. Yang
pertama dan kedua adalah subyek yang sadar (cognitive), sementara yang ketiga
adalah obyek yang tersadari atau disadari (cognizable). Hubungan dialektis
semacam inilah yang tidak terdapat pada sistem pendidikan mapan selama ini.
Sistem pendidikan yang pernah ada dan mapan selama ini dapat diandaikan sebagai
sebuah “bank” (banking concept of education) di mana pelajar diberi ilmu
pengetahuan agar ia kelak dapat mendatangkan hasil dengan lipat ganda. Jadi,
anak didik adalah obyek investasi dan sumber deposito petensial.
Mereka
tidak berbeda dengan komoditi ekonomis lainnya yang lazim dikenal. Depositor
atau investornya adalah para guru yang mewakili lembaga-lembaga kemasyarakatan
mapan dan berkuasa, sementara depositonya adalah berupa ilmu pengetahuan yang
diajarkan kepada anak didik. Freire percaya bahwa tugas utama pendidikan
sistematis adalah reproduksi ideologi kelas dominan, reproduksi kondisi-kondisi
untuk memelihara kekuasaan mereka, namun tepatnya karena hubungan antara
pendidikan sistematis, sebagai suatu subsistem dengan sistem sosial, merupakan
hubungan pertentangan dan kontradiksi timbal balik. Anak didik pun lantas
diperlakukan sebagai”bejana kosong” yang akan diisi, sebagai sarana tabungan
atau penanaman “modal ilmu pengetahuan” yang akan dipetik hasilnya kelak.
Jadi
guru adalah subyek aktif, sedang anak didik adalah obyek pasif yang penurut,
dan diperlakukan tidak berbeda atau menjadi bagian dari realitas dunia yang diajarkan
kepada mereka, sebagai obyek ilmu pengetahuan teoritis yang tidak berkesadaran.
Pendidikan akhirnya bersifat negatif di mana guru memberi informasi yang harus
ditelan murid, yang wajib diingat dan dihafalkan. Secara sederhana, Freire
menyusun daftar antagonisme pendidikan “gaya bank” itu sebagai berikut: 1.Guru
mengajar, murid belajar 2.Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa 3.Guru
berpikir, murid dipikirkan 4.Guru bicara, murid mendengarkan 5.Guru mengatur,
murid diatur 6.Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti 7.Guru
bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan
gurunya 8.Guru memilih apa yang diajarkan, murid menyesuaikan diri 9.Guru
mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionlismenya, dan
mempertentangkannya dengan kebebasan murid-murid 10.Guru adalah subyek proses
belajar, murid obyeknya.
Oleh
karena guru yang menjadi pusat segalanya, maka merupakan hal yang lumrah saja
jika murid-murid kemudian mengidentifikasikan diri seperti gurunya sebagai
prototip manusia ideal yang harus ditiru dan digugu, harus diteladani dalam
semua hal. Freire menyebut pendidikan semacam itu menciptakan “nekrofili” dan
bukannya melahirkan “biofili”. Implikasinya lebih jauh adalah bahwa pada
saatnya nanti murid-murid akan benar-benar menjadikan diri mereka sebagai
duplikasi guru mereka dulu, dan pada saat itulah akan lahir lagi generasi baru
manusia-manusia penindas. Jika di antara mereka ada yang menjadi guru atau
pendidik, daur penindasan segera dimulai dalam dunia pendidikan, dan demikian
terjadi seterusnya. Sistem pendidikan, karena itu, menjadi sarana terbaik untuk
memelihara keberlangsungan status-quo sepanjang masa, bukan menjadi kekuatan
penggugah (subversive force) ke arah perubahan dan pembaruan. Bagi Freire,
sistem pendidikan justru harus menjadi kekuatan penyadar dan pembebas umat
manusia. Sistem pendidikan mapan selama ini telah menjadikan anak didik sebagai
manusia-manusia yang terasing dan tercerabut (disinherited masses) dari
realitas dirinya sendiri dan realitas dunia sekitarnya, karena ia telah
mendidik mereka menjadi ada dalam artian menjadi seperti orang lain, bukan
menjadi dirinya sendiri. Pola pendidikan seperti itu paling jauh hanya akan
mampu merubah “penafsiran” seseorang terhadap situasi yang dihadapinya, namun
tidak akan mampu merubah “realitas” dirinya sendiri. Manusia menjadi penonton
dan peniru, bukan pencipta, sehingga mudah dipahami mengapa suatu revolusi yang
paling revolusioner sekalipun pada awal mulanya, tetapi digerakkan oleh
orang-orang yang dihasilkan oleh sistem pendidikan mapan seperti itu, pada
akhirnya hanyalah menggantikan simbol-simbol dan mitos-mitos lama dengan
simbol-simbol dan mitos-mitos baru yang sebenarnya setali tiga uang alias sama
saja, bahkan terkadang jauh lebih buruk.
Akhirnya
Freire sampai pada formulasi filsafat pendidikannya sendiri, yang dinamakannya
sebagai “pendidikan kaum tertindas”, sebuah sistem pendidikan yang ditempa dan
dibangun kembali bersama dengan, dan bukan diperuntukkan bagi, kaum tertindas.
Sistem pendidikan pembaharu ini, kata Freire, adalah pendidikan untuk
pembebasan – bukan untuk penguasaaan (dominasi). Pendidikan harus menjadi
proses pemerdekaan, bukan penjinakan sosial-budaya (social and cultural
domestication).
Pendidikan
bertujuan menggarap realitas manusia dan, karena itu secara metodologis
bertumpu di atas prinsip-prinsip aksi dan refleksi total, yakni prinsip
bertindak untuk merubah kenyataan yang menindas dan pada sisi simultan lainnya
secara terus-menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah
kenyataan yang menindas tersebut. Dengan kata lain, “praxis” adalah “manunggal
karsa, kata dan karya”, karena manusia pada dasarnya adalah kesatuan dari
fungsi berpikir, berbicara dan berbuat. Pada saat bertindak dan berpikir
itulah, seseorang menyatakan hasil tindakan dan buah pikirannya melalui
kata-kata. Dengan daur belajar seperti ini, setiap anak didik secara langsung
dilibatkan dalam permasalahan-permasalahan realitas dunia dan keberadaan diri
mereka di dalamnya. Karena itu, Freire juga menyebut model pendidikannya
sebagai “pendidikan hadap masalah” (problem posing education). Anak didik
menjadi subyek yang belajar, subyek yang bertindak dan berpikir, dan pada saat
bersamaan berbicara menyatakan hasil tindakan dan buah pikirannya. Begitu juga
sang guru. Jadi, keduanya (murid dan guru) saling belajar satu sama lain,
saling memanusiakan. Dalam proses ini, guru mengajukan bahan untuk
dipertimbangkan oleh muriddan pertimbangan sang guru sendiri diuji kembali setelah
dipertemukan dengan pertimbangan murid-murid, dan sebaliknya. Hubungan keduanya
pun menjadi subyek-subyek, bukan subyek-obyek. Obyek mereka adalah realita.
Maka terciptalah suasana dialogis yang bersifat inter subyek untuk memahami
suatu obyek bersama.
Sumber :
Freire, P. (1999). Politik Pendidikan Kebudayaan,
Kekuasaan, dan Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Comments
Post a Comment